Sejarah

Sejarah Keperawatan Gigi

A.Latar Belakang
Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat Indonesia, Menteri Kesehatan Republik Indonesia mengeluarkan Surat Keputusan Menteri tertanggal 30 Desember 1950 Nomor: 27998 / Kab memutuskan mendirikan Pendidikan Perawat Gigi ( Dental Nurse ). Keputusan tersebut berlaku mulai 1 Agustus 1951, maka berdirilah Sekolah Perawat Gigi di Jakarta.
Pada tahun 1953 Sekolah Perawat Gigi Jakarta meluluskan Perawat Gigi yang pertama. Namun pada tahun 1957 Sekolah Perawat Gigi diubah menjadi Sekolah Pengatur Rawat Gigi ( SPRG ). ( catatan komentar : inilah awal masalah jati diri perawat gigi menjadi tidak jelas, mengapa nama Sekolah Perawat Gigi berubah menjadi Sekolah Pengatur Rawat Gigi ? sementara orang awam selalu beranggapan SPRG adalah Sekolah Perawat Gigi)
Pada tahun 1959 SPTG didirikan dan pada tahun 1960 lulus Sekolah Pengatur Tehniker Gigi angkatan I Jakarta dan akhirnya pada tahun 1967 berdiri Ikatan Perawat Gigi dan Tehniker Gigi Indonesia ( IPTGI ). IPTGI berlangsung sampai dengan tahun 1986 tanpa kegiatan atau vakum dan di tahun itu pula dilaksanakan kongres I IPTGI di Ciloto.
Pada tahun 1989 disusun konsep Jabatan Fungsional Dokter Gigi, Perawat Gigi dan Tehnisi Gigi. Pada tahun 1991, konsep Jabatan Fungsional Paramedis Gigi ditolak Menteri Pendayagunaan karena latar belakang pendidikan Perawat Gigi dan Tehnisi Gigi berbeda, sehingga jabatan fungsional antara kedua tenaga tersebut perlu dipisah.
Pada tahun 1991 berlangsung kongres II IPTGI di Jakarta diantaranya membahas konsep Jabatan Fungsional Paramedis Gigi ditolak Menteri Pendayagunaan karena latar belakang pendidikan Perawat Gigi dan Tehnisi Gigi berbeda, sehingga jabatan fungsional antara kedua tenaga tersebut perlu dipisah.
Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan bahwa tenaga kesehatan harus mempunyai keahlian professional yang ditunjang pendidikannya.
Peraturan Pemerintah Nomor 16 tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional menyatakan untuk menjadi Jabatan Fungsional dipersyaratkan adanya profesi yang jelas, etika profesi dan tugas mandiri dari tenaga kesehatan tersebut dan Jabatan Fungsional menghendaki adanya organisasi profesi.
Sedemikian besar tuntutan pelayanan kesehatan gigi dan mulut serta luasnya tanah air Indonesia dan bertambahnya penduduk, Perawat Gigi lulusan Sekolah Pengatur Rawat Gigi di Jakarta sudah barang tentu tidak mampu memenuhi tuntutan tersebut. Seperti kita ketahui Pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan telah / pernah memiliki sekitar 22 Sekolah Pengatur Rawat Gigi yang berada di 17 propinsi. Jelaslah bahwa keberadaan Perawat Gigi bagi masyarakat Indonesia sangat dibutuhkan.
Sekolah Pengatur Rawat Gigi yang berdiri sejak tahun 1951 sampai saat ini telah mengalami beberapa kali perubahan kurikulum, yang artinya Perawat Gigi juga telah mempunyai beberapa wajah atau profil ( terlampir Pedoman Kurikulum Pendidikan SPRG ) dari lampiran SK Menkes Nomor 62/KEP/DIKLAT/KES/81.
Memenuhi tuntutan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 16 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil dan Organisasi Profesi serta berkat daya juang yang tinggi melalui berbagai proses, terbentuklah wadah menghimpun profesi Perawat Gigi pada tanggal 13 September 1996 yang dinamakan PERSATUAN PERAWAT GIGI INDONESIA / organisasi profesi PPGI di BLKM Ciloto Jawa Barat yang didukung oleh Direktorat Kesehatan Gigi, Biro Organisasi Departemen Kesehatan RI, dan PUSDIKNAKES Depkes RI.
Di dalam Peraturan Pemerintah No.32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan, tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan / atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
Jelaslah bagi kita, dari butir pertama Peraturan Pemerintah tersebut, bahwa Perawat Gigi termasuk dalam salah satu tenaga kesehatan. Perawat Gigi mempunyai keterampilan, kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan gigi khususnya setelah menempuh pendidikan Sekolah Pengatur Rawat Gigi.
Namun pada Peraturan Pemerintah No. 32 tahun 1996 tenaga Perawat Gigi belum masuk di dalamnya, maka PPGI yang baru terbentuk tersebut perlu mengadakan MUNAS I dengan segera yang didukung pada waktu itu Direktorat Kesehatan Gigi selaku Pembina Tehnis dan berlangsunglah pertemuan para wakil Perawat Gigi dari seluruh Indonesia pada tanggal 10 s.d. 11 Desember 1996 yang sekaligus mengesahkan organisasi profesi Perawat Gigi dan telah menghasilkan ;
1.Anggaran Dasar
2.Anggaran Rumah Tangga
3.Kode Etik Perawat Gigi
4.Usulan draft jabatan fungsional
5.Program Kerja
Sesuai dengan keinginan para Perawat Gigi agar keberadaan Perawat Gigi diakui oleh Pemerintah dan tercantum pada PP No. 32 tahun 1996, Perawat Gigi memberikan pandangan tentang keuntungan dan kerugian apabila Perawat Gigi termasuk kategori Tenaga Keperawatan dan Perawat Gigi sebagai kekhususan Perawat.
Ada pun keuntungan dan kerugiannya sebagai berikut;
Alternatif I Perawat Gigi termasuk kategori Tenaga Keperawatan adalah,
1.Perawat
2.Bidan
3.Perawat Gigi
Keuntungannya :
1.Perawat Gigi sebagai profesi yang mandiri
2.Memenuhi kebutuhan program yang ditentukan Pemerintah dalam pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut
3.Perawat Gigi sebagai mitra kerja Dokter Gigi
4.Perawat Gigi dapat memberikan pelayanan asuhan sesuai dengan ilmu yang dimililiki
5.Perawat Gigi dapat menjalankan tugas, tanggung jawab sesuai dengan profesinya
6.Perawat Gigi dapat mengembangkan jati dirinya
7.Perawat Gigi dapat mengembangkan karir sesuai dengan profesinya
8.Meningkatkan percaya diri pada Perawat Gigi
9.Secara terorganisir dan pelayanan Perawat Gigi yang prima mampu meningkatkan / mencapai derajat kesehatan gigi masyarakat secara optimal
10.Perawat Gigi dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang lanjut yang sesuai dengan bidang ilmunya
Alternatif II Perawat Gigi sebagai kekhususan dari PERAWAT
Yang termasuk tenaga Keperawatan :
1.Perawat
Perawat Umum
Perawat Gigi
dst
2.Bidan
Kerugiannya:
1.Program pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut tidak dapat terlaksana secara optimal
2.Dokter Gigi tidak mempunyai mitra kerja
3.Pendidikan Perawat Gigi yang ada kini dapat ditutup
4.Seluruh Perawat Gigi harus ada pelatihan karena ilmu yang diterima berbeda
5.Perawat Gigi tidak dapat menunjukkan eksistensinya

Demikianlah yang diperjuangkan DPP PPGI agar Perawat Gigi masuk kategori tenaga Keperawatan dan tercantum pada jenis tenaga kesehatan bagian dari tenaga Keperawatan di dalam PP No. 32 tahun 1996 dengan berbagai upaya maka keluarlah Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1035/Menkes/SK/IX/1998 tentang Perawat Gigi merupakan salah satu jenis tenaga Kesehatan kelompok Keperawatan. Selanjutnya untuk kenyamanan Perawat Gigi bekerja disusunlah peraturan – peraturan Jabatan Fungsional Perawat Gigi kemudian terbitlah :
1.KEPMENPAN No. 22/KEP/M.PAN/4/2001tentang Jabatan Fungsional Perawat Gigi dan angka kreditnya
2.Keputusan Bersama Menkes dan Kesos dan KA. BKN No. 728/MENKES/ KESOS/ SKB/ VII/ 2001 dan No. 32A Tahun 2001
3.Kep.Menkes No. 1208/Menkes /SK/ XI/2001
Sebagai pelaksanaan lebih lanjut Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tersebut maka perlu ditetapkan tentang Registrasi dan Izin Kerja Perawat Gigi tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No: 1392Menkes /SK/XII/2001 ( SK terlampir )
Perawat Gigi dalam melaksanakan tugasnya dengan memberikan Pelayanan Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 284/ Menkes/SK/ IV/ 2006, terlampir
Perawat Gigi merupakan salah satu jenis tenaga Kesehatan dalam kelompok Keperawatan yang dalam menjalankan tugas profesinya harus berdasarkan Standar Profesi sesuai Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesi Nomor : 378/Menkes/SK/III/2007, (terlampir). Sehingga dapat disimpulkan tenaga profesi Kesehatan Gigi mempunyai jenis tenaga sebagai berikut ;
1.Dokter Gigi
2.Perawat Gigi
3.Tehniker Gigi

B. SEJARAH AKADEMI KESEHATAN GIGI DEPKES HINGGA KINI
Menyadari akan makin meningkatnya need and demand masyarakat akan kebutuhan pelayanan kesehatan, PUSDIKLAT Depkes ( pada waktu itu belum terpisah Pusdiklat dan Pusdiknakes) telah memikirkan untuk meningkatkan SPRG menjadi Program D3 dengan mengadakan pertemuan di Tawangamangu tahun 1980 yang dihadiri oleh pakar dari Depkes, Depdikbud, beberapa dekan FKG, Pimpinan dan staf SPRG .
Setelah melalui proses yang panjang, konsultasi dengan Departemen Kesehatan, Depdikbud, FKG, FKM, PDGI, IPGI ( pada waktu itu IPTGI ) serta mengacu pada referensi antara lain Sistem Kesehatan Nasional, lahirlah Akademi Kesehatan Gigi Depkes yang akan melahirkan tenaga Ahli Madya Kesehatan Gigi.
Bentuk Pendidikan Tinggi
Peraturan Pemerintah Nomor 30 tahun 1990 menegaskan bahwa pendidikan tinggi merupakan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi daripada pendidikan menengah di jalur pendidikan sekolah. Pendidikan tinggi terdiri atas pendidikan akademik dan pendidikan professional, satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi disebut Perguruan Tinggi yang dapat berbentuk Akademi, Politeknik, Sekolah Tinggi, Institut atau Universitas.
1.Akademi menyelenggarakan program pendidikan professional dalam satu atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, tehnologi, atau kesenian tertentu
2.Politeknik menyelenggarakan program pendidikan professional dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus
Dengan demikian pendidikan akademik yang mengutamakan peningkatan mutu dan memperluas wawasan ilmu pengetahuan, diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi, Institut dan Universitas, sedangkan pendidikan professional yang mengutamakan peningkatan kemampuan penerapan ilmu pengetahuan, diselenggarakan oleh Akademi, Politeknik, Sekolah Tinggi, Institut, dan Universitas.
Struktur Organisasi dan Tata Kerja Akademi Kesehatan Gigi mengacu pada Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 095/MENKES/SK/II/1991. Dan berdasarkan Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 017a/U/1998 Nomor: 108/MENKES/SKB/II/1998 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Program Diploma di Bidang Kesehatan dengan lampiran Keputusan Bersama tersebut tertanggal 3 Pebruari 1998 jenis pendidikan program di bidang kesehatan sebagai berikut;
1.Keperawatan
2.Kebidanan
3.Kesehatan Lingkungan
4.Gizi
5.Tehnik Radiodiagnostik dan Radioterapi
6.Tehnik Elektromedik
7.Fisioterapi
8.Farmasi
9.Analis Farmasi dan Makanan
10.Analis Kesehatan
11.Refraksi Optisi
12.Terapi Wicara
13.Okupasi Terapi
14.Ortetik Prostetik
15.Tehnik Gigi
16. Kesehatan Gigi
17.Perekam Medis dan Informasi Kesehatan
Pendidikan Perawat Gigi di Indonesia pada awalnya dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan dengan kemampuan vokasional setara jenjang pendidikan menengah dengan kelembagaan Sekolah Pengatur Rawat Gigi berubah menjadi Akademi Kesehatan Gigi ( AKG ) dengan peserta didik berasal dari lulusan pendidikan menengah ( SMU/SMA) dan semenjak tahun 2002 Akademi Kesehatan Gigi bergabung dalam struktur kelembagaan Politeknik Kesehatan sebagai Jurusan Kesehatan Gigi ( JKG ).
Padahal Keputusan Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Nomor 43/MENKES-KESOS/SK/1/2001 tentang Izin Penyelenggaraan Pendidikan Diploma Bidang Kesehatan pendidikan Diploma Kesehatan Gigi tidak sesuai lagi dengan situasi dan kondisi saat ini. ( terlampir ) dan telah diganti menjadi jenis pendidikan Diploma Keperawatan Gigi sebagaimana pada SK Menkes dalam lampiran I Surat Keputusan Menteri Kesehatan (terbaru) Nomor : 1192/MENKES/PER/X2004 tanggal 19 Oktober 2004 tertuang jenis pendidikan Diploma di bidang kesehatan sebagai berikut;
1.Keperawatan
2.Kebidanan
3.Keperawatan Gigi
4.Kesehatan Lingkungan
5.Gizi
6.Fisioterapi
7.Okupasi Terapi
8.Terapi Wicara
9.Ortotetik Prostetik
10.Farmasi
11.Analis Farmasi dan Makanan
12.Tehnik Radiodiagnostik dan Radioterapi
13.Analis Kesehatan
14.Tehnik Gigi
15.Tehnik Elektromedik
16.Refraksi Optisi
17.Perekam dan Informatika Kesehatan
18.Tehnologi Tranfusi Darah
19.Akupunktur
20.Tehnik Kardiovaskuler
Namun kenyataan hingga saat ini penyelenggaraan pendidikan program Diploma jenis pendidikan masih menggunakan jenis pendidikan lama ( Kesehatan Gigi ).
Kekhasan dari penyelenggaraan pendidikan program Diploma adalah pelaksanaan praktik yang lebih intensif untuk menghasilkan lulusan yang menguasai kompetensi profesi tertentu. Hal ini berimplikasi pada beberapa hal berikut;
1.Program Diploma lebih mengutamakan pada peningkatan keahlian dan keterampilan
2.Kegiatan menerapkan dan mempraktikkan keahlian lebih dominan dalam proses penyelenggaraan sistem belajar – mengajar
3.Oleh karenanya laboratorium maupun bengkel dengan fasilitas yang memadai menjadi tulang punggung dalam penyelenggaraan pendidikan
4.Dosen atau laboran yang kompeten menjadi prasyarat utama agar sistem pembelajaran berjalan semestinya
5.Kurikulum harus merujuk pada kompetensi profesi yang dituju
Kompetensi menjadi jembatan yang menghubungkan antara stake holder (pengguna) dengan institusi pendidikan program Diploma ( diantaranya Politeknik Kesehatan Depkes ). Kompetensi profesi akan menjadi rujukan dalam menyusun panduan proses belajar mengajar, yang salah satu bagian terpentingnya adalah kurikulum.
Dengan demikian kurikulum pada pendidikan Diploma harus didasarkan pada kompetensi profesi yang diidentifikasi secara langsung dari masyarakat profesinya. ( P5D Bandung, 2002 hal 3 )
Dalam membangun kurikulum berbasis kompetensi profesi perlu diperhatikan urutan kerja dalam menyelesaikan setiap tahapannya. Urutan yang logis untuk membangun kurikulum adalah;
1.Identifikasi profesi dan rincian kerja pada profesi tersebut
2.Identifikasi kompetensi dari setiap profesi yang telah teridentifikasi
3.Menjabarkan kompetensi dalam gatra pembelajaran sesuai taxonomi Bloom sekaligus mengukur kedalamannya
4.Memilah dan mengurut gatra pembelajaran dalam kelompok matakuliah
5.Menentukan mata kuliah yang merangkum gatra pembelajaran yang telah tersusun
Hal tersebut harus dirinci dan dilaksanakan proses pengembangan kurikulum Diploma III Keperawatan Gigi yang diinginkan.
Jurusan Keperawatan Gigi lebih sesuai namanya dengan yang dihasilkan yaitu Perawat Gigi dengan sebutan Ahli Madya Keperawatan Gigi.
Penggantian nama pendidikan dari Jurusan Kesehatan Gigi menjadi Jurusan Keperawatan Gigi juga telah masuk daftar agenda ( prioritas utama program jangka pendek ) Musyawarah Nasional III PPGI, Perawat Gigi seluruh Indonesia tahun 2006 di Makassar.

C. PERAWAT GIGI BUKAN PERAWAT ( NURSE )
Walaupun Perawat Gigi di dalam SK Menteri Kesehatan RI Nomor 1035 Tahun 1998 termasuk kelompok Keperawatan bukan berarti Perawat Gigi adalah Perawat. Sama halnya berdasarkan PP Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan, Bidan juga termasuk kelompok Keperawatan akan tetapi Bidan sendiri menyatakan dirinya bukan Perawat.
Alasan mengapa Perawat Gigi bukan Perawat adalah Pemahaman tentang Keperawatan bukan hanya berarti nursing. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke-2 yang diterbitkan oleh Balai Pustaka Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1994, kata “RAWAT” diartikan pelihara, urus, atau jaga. “Perawatan” adalah proses perbuatan, cara merawat, pemeliharaan, penyelenggaraan, pembelaan (orang sakit). Berdasarkan pengertian tersebut di atas, maka Keperawatan dapat diartikan sesuatu yang berkaitan dengan proses perbuatan, cara merawat, pemeliharaan, penyelenggaraan dan pembelaan khususnya bagi orang sakit.
Definisi Keperawatan berdasarkan hasil lokakarya Keperawatan Tahun 1983, dinyatakan bahwa Keperawatan adalah suatu bentuk professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan biopsiko social cultural yang komperehensif serta ditujukan kepada inidividu, keluarga dan masyarakat baik sehat maupun sakit.
Dalam hal ini PPGI lebih cenderung mengartikan Keperawatan dalam konteks kesehatan gigi dan mulut adalah dalam bentuk upaya pemeliharaan ( care ) kesehatan gigi dan mulut. Antara Perawat Gigi dan Perawat terdapat perbedaan pendekatan walaupun kedua jenis tenaga tersebut memandang manusia sebagai satu kesatuan yang mengandung unsur – unsur biologi, psikologis, sosial dan kultural (biopsikososialkultural).
Perawat Gigi melakukan asuhan kesehatan gigi dan mulut dalam upaya pendekatan, pemeliharaan melalui tindakan-tindakan promotif – preventif, sedangkan Perawat (Nurse) melakukan pendekatan berdasarkan pendekatan pemenuhan kebutuhan dasar manusia agar mampu mengatasi masalahnya.
Hingga dapat disimpulkan sebagai berikut;
1.Pelayanan kesehatan gigi dan mulut mencakup pelayanan medis gigi ( care ) oleh Dokter Gigi, pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut ( care ) oleh Perawat Gigi dan pelayanan asuhan supporting oleh Tehnisi Gigi.
2.Pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut dilakukan secara komperehensif kepada individu, keluarga dan masyarakat yang mempunyai ruang lingkup berfokuskan kepada aspek promotif, preventif, dan kuratif dasar
3.Dalam melaksanakan tugasnya seorang Perawat Gigi dapat memberikan konseling terhadap hak-hak klien dan memberikan jaminan terhadap kualitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang diberikan secara profesional
4.Untuk menghasilkan tenaga Perawat Gigi yang profesional melalui pendidikan jenjang lanjut, pendidikan tinggi yaitu jenjang Diploma III
5.Perawat Gigi merupakan tenaga kesehatan professional yang termasuk dalam kategori tenaga Keperawatan
6.Tugas Perawat Gigi bersifat mandiri secara professional
7.Perawat Gigi adalah mitra kerja Dokter Gigi yang menunjang program Pemerintah dalam pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut
8.Perawat Gigi melaksanakan program Pemerintah ( Departemen Kesehatan ) dalam pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut masyarakat.
9.Pendidikan Perawat Gigi telah dimulai sejak tahun 1951 melalui Sekolah Perawat Gigi dan pada tahun 1957 berubah menjadi Sekolah Pengatur Rawat Gigi yang ditingkatkan jenjang pendidikan tinggi melalui Akademi Kesehatan Gigi dan kini Jurusan Kesehatan Gigi
10.Perawat Gigi mempunyai organisasi profesi sebagai wadah berhimpun dan memperjuangkan aspirasinya adalah PERSATUAN PERAWAT GIGI INDONESIA.
11.Dalam melaksanakan tugasnya seorang Perawat Gigi berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya ( Dokter Gigi, Dokter Umum, Perawat Umum, Bidan dan sebagainya ) dan bekerja sesuai Standar Profesi yang berlaku
12.Penyelenggaran pendidikan Diploma bidang kesehatan bagi tenaga calon Perawat Gigi agar disesuaikan nama institusi menjadi Jurusan Keperawatan Gigi sebagaimana dalam lampiran I SK Nomor 1192/Menkes/PER/X/2004
13.Kurikulum adalah dokumen yang berisikan uraian mengenai aktivitas belajar, mengajar dan fasilitas penunjang yang dirangkum berdasarkan kebutuhan masyarakat, falsafah pendidikan dan tujuan institusional ( Keperawatan Gigi ) maka dianggap perlu melakukan perubahan sesuai Standar Profesi dan Standar Pelayanan Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut yang berlaku.
14.Bahwa penyusunan kurikulum pendidikan Diploma III Keperawatan Gigi harus melibatkan organisasi profesi PPGI
15.Semua anggota Keperawatan adalah satu KAUM = Kaum Keperawatan

AL”ANFAL (53) “……. SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK AKAN MENGUBAH NIKMAT SUATU KAUM, HINGGA KAUM ITU MENGUBAH APA YANG ADA PADA DIRI MEREKA SENDIRI.

113 Balasan ke Sejarah

  1. kadal mengatakan:

    perawat indonesia harus lebih giat

  2. kadal mengatakan:

    harus giat perawat indonesia

  3. Emannuel,AMKG mengatakan:

    Perawat gigi janganlah haya jd pembantu dokter gigi saja yg kerajanya hanya nyuci alat, steril alat, nyiapin alat dan bersih dental unit sj tp perawat gigi adlh mitra kerja dokter gigi yg dapat melakukan asuhan kesehatan gigi dan mulut sesuai dgn kopetensinya

    • yuni lia nur khamidah mengatakan:

      kenapa yach…….kita koq dianggap kayak pembantu dokter gigi aja………..padahal,kita juga mempunyai wewenang untuk melakukan pelayanan asuhan gigi dan mulut.

      • Basuki Rakhmat mengatakan:

        Kepada semua Perawat gigi Indonesia….dalam bekerja jangan mau kalau hanya dianggap sebagai pembantu dokter gigi saja…kita semua merupakan rekan kerja..kalau hanya untuk cuci dan steril alat saja ga usah capek2 sekolah, lulusan SD bahkan yang ga sekolah juga bisa….SPRG menciptakan kita jadi perawat yang handal bukan pembantu…..Ingat itu….

    • tri sediono mengatakan:

      perawat gigi itu hanya omong kosong doang,apalagi yang namanya PPGI,hanya membual,tdk bs memperjuangkan alumni dr SPRG,saya dianggap pengkhianat almamater,sdg almamater tdk bs membantu saya.

    • tri sediono mengatakan:

      terus terang saya slh satu alumni yg tersingkir,oleh pengurus PPGI saya tdk diakui sbg alumni krn saya tdk bkrj sesuai dgn bidang saya,tp mereka ga bs bantu,hny bs mengolok olok pd waktu itu,sampai akhirnya saya msk ke bidang yg lain,tp sakit hati atas perkataan pengurus PPGI waktu itu msh membekas dihati meskipun sdh 15 thn peristiwa itu.saya sebenarnya saya cinta profesi perawat gigi.bgmnpun SPRG selalu dihati saya sampai sekarang.

  4. drg lasrina tambun mengatakan:

    Pelatihan perawat gigi sebaiknya diadakan agar semakin profesional…….

    • Basuki Rakhmat mengatakan:

      Perawat Gigi bukan pelatihan dok…tapi Sekolah yang mempunyai kurikulum dan peserta didiknya dari seleksi yang ketat. Bukan seperti baby sister atau sejenisnya yang cuma dilatih. Kami punya Izasah bukan sertipikat…oke dok….

      • unadi darwin cilegon mengatakan:

        tolong utk bu lasrina: ucapannya di koreksi kembali, kalau tdk tahu pertmasalahannya, sebaiknya tdk usah berkomentar…!!!

      • agus mengatakan:

        maaf dr.lasrina…atas kelakuan saudara2X saya ini…mungkin karena pendidikannya kurang….kalu saya bisa meluruskan…mungkin kalimatnya perlu diperjelas….PERLU ADANYA PELATIHAN BAGI PERAWAT GIGI AGAR SEMAKIN PROFESIONAL….harap maklum ya dok…..

    • koe mengatakan:

      ” Pelatihan ” macam ibu2 PKK aj

  5. koplak mengatakan:

    pwt gigi harus bermartabat! jgn hanya mau jadi kacung malu-maluin…kuasai medan biar gak dilecehin!!! BRAVO PPGI….!!!

    • Basuki Rakhmat mengatakan:

      Betul Bung koplak….kalu cuma jadi kacung aja mah mendingan juga jadi tukang gigi aja dipinggir jalan…

    • unadi darwin mengatakan:

      khusus utk agus (winangun ?) yang pendidikan kurang itu siapa bro ????, tambah prihatin deh dg pernyataan kang agus….(jngn memposisikan diri utk di ketawain Lasrina),,,iiikhkhkh…….

  6. Bris De mengatakan:

    Dan Parahnya Lagi !!!Skill Perawat Gigi AKG/JKG dari SMA ama yang Doeloe SPRG Juauh Bisa dikata Ketrampilannya turun 35 – 50 % lebih Trampil yang dari sprg entah mungkin dulu memang Dunia Kedokteran Gigi lagi Sepi tenaga apa???Tros Skarang ini munkin Kurikulum Banyak yang diPangkas !!??Kita AKG/JKG dari SMU kayaknya Dicetak Jadi Badut !!Pasalnya Cuman Di Konsentrasikan Sebagai Tenaga Penyuluh !!Apa itu Namanya . . .Badut ??Ulang Tahun masih Mending Sekali Pentas Lumayan. . .. He he he. . . . .(Apa gak Enak SPRG,AKG,JKG diganti Jadi AGBAR “AkademiGigiBadutRajelas” Kan enak ??
    Terus terang Aku juga Alumni AKG 0 tahun alias Sma 2000/2003 Depkes Ri Surabaya !!Yang Gak bisa Apa-apa Cuman Jadi Tukang Cuci !Aduh. . . .Nasib – Nasib …Jdi Tukang Cuci / Babu, Aja Hrus dengan Titel AMKG?Mbok Yo Tutup Aja Kampusnya !!Kan Banyak Inem inem yang nganggur . . . . .

    Wassalam Broden

    >>>”>

    • Basuki Rakhmat mengatakan:

      Ga malu tuch sama gelar AMKG…………..belajar dong dari senior kamu….jangan mentang2 udah AMKG ga mau belajar dari senior yang cuma SPRG….

      • KUKUH RISWANTO, S.Sos mengatakan:

        belajar ama senior… butuh berapa lama lagi…
        belajar pasti bisa, tetep aja gak dapet kredit point..kan…
        kalo kerja dipuskesmas yang belom ada drg nya mungkin masih bisa hampir sama, tapi gak dapet kredit point kenaikan pangkat ya sama aja…lulusan 50-90 an mungkin masih bisa. lulusan SPRG 95-terakhir…?” dan AKG… mending UKGS dan UKGMD/K, jalan-jalan dapet tuh point… mneyelam minum aier.
        enak mana…?? yang penting ikhlas Insya Allah “Barokah” dapat nyekolahin anak-anak kita nantinya menjadi lebih berguna lagi untuk bangsa ini…. tapi bukan AKG /SPRG ATAU sejenisnya….

      • koe mengatakan:

        belajar kok dari senior,aneh loe

    • unadi darwin cilegon mengatakan:

      ikut prihatin,semoga bisa bersabar..ya mas broden…

    • unadi darwin cilegon mengatakan:

      Kenalkan saya UNADI, lulusan SPRG ANK IX Tahun 1979, AKG Th,. 1997.. Depkes Bandung…..dst.

      Sedih, sekaligus prihatin bila memperhatikan perjalanan Prg, kelihatannya ada dua versi ADA yang benar benar optimis dan enjoy enjoy saja dg profesinya, tapi kebanyakan yg berontak meraSA tertipu mengambil profesi sbg PRG.Seperti membeli kucing dalamkarung…hahaha…

      TAPI tak ada yang bisa disalahkan..
      Pengalaman saya selama 17 tahun bekerja sebagai prg diPuskesmas termasuk yang lancar lancar saja, kami selalu kompak, walaupun porsi pekerjaan banyak dipihak kita. ( ada lho drg yang tdk begitu trampil,,,, bahkan tak punya nyali.. hehehe), untuk melakukan suatu tindakan..( ssst jangan marah dulu)..ini kenyataan lho..
      tapi saya anggap biasa ko, wong ini kan keterampilan jadi pasti berbeda beda..

      saking kompaknya dg sang drg, saya malah yang pasang badan (jadi jagoan nih..)karena biasanya
      komplik yang terjadi justru dengan pimpinan (dr umum), yg kurang respek dengan ;program kesgi, terutama drg nya….

      yang satu merasa pimpinan,, punya kewenangan, dia bilang anda kan cuma pegang program kecil yang tidak begitu penting, tidak mematikan,,ga ngepek..pek..pek…

      sementara yang lain, saya juga sama sama sarjana, bahkan saya lulusan dari universitas negeri terkenal…. mestinya aku juga bisa jadi pimpinan…kasarnya seperti itu..

      • unadi darwin cilegon mengatakan:

        terusin ya..
        jadi sebenarnaya profesu prg itu (yg lulusan SPRG. bukan AKG), adalah profesi yang membutuhkan uji keterampilan, bukan banyak teori, teori boleh dibilang ga begitu penting yang penting terampil dan sedikit keberanian…baru oke.karena apa…lho wong cuma di bentuk dlm waktu yang singkat kudu ngapal teori,,,ini hal yg mustahil.

        Dahulu, SPRG dan lain lain,dianalogikan sekolah yang belajar dari AYAM.. perhatikan kalau ayam lagi cari makan… koreh koreh cok…,langsung dapat langsung dimakan..begitu lapar, ngoreh,, langsung dimakan, begitu seterusnya.

        Artinya pendidikan prg itu di bikin karena desakan kebutuhan ternaga perawat gigi pada waktu itu,maka diciptakanlah SPRG,, jadi boleh dibilang sekolah yang sipatnya darurat, atau insidentil,

        Kini,harusnya di buat berbeda paradigmanya, regulasinya,,kan zamannya juga sdh beda, jadi bukan lagi bentuk pendidikan yang sipatnya tergesa gesa karena dikejar kebutuhan….entah apalah…mungkin kurikulumya yang pertajam.. disempurnakan.

        jangan ada berita atau keluhan dari para alumni yang merasa , ketika lulus tidak mempunyai keterampila apa apa…kam repot.

        Kasihan PADA para perintis dulu yang berjuang agar prg bisa eksis dan mampu bekerja dengan kemampuan yang optimal…

      • Us us Solihin mengatakan:

        Halo sobat gimana nih kabarnya baik kan, dah lama nih kagak temuan. jujur sy sering tanya ama temen2 seangkatan tentang sobat. tp kaga ada yg tahu, eh pas sy buka ppgi sobat tahunya msh ada, kirain dah pindah alam he.. he.. ! eh bagi no hp yah. biar kite bisa ngobrol 2. Tanks sy tunggu balasanya yah !

    • AZIZ mengatakan:

      masalahnya bukan kita alumni SPRG atau AKG tapi kemauan kita untuk belajar dan berkembang.Belajar tdk harus disekolahan saja tp bisa dari pengalaman dan orang- orang di sekitar kita.Perawat gigi sebenarnya banyak kegiatanya, penyuluhan di sekolah / masyarakat juga hrs punya ketrampilan khusus dan pekerjaan yang tdk mudah, lebih mudah cabut gigi langsung kelihatan hasilnya tp penyuluhan/ merubah prilaku butuh waktu dan kesabaran kalau kita tdk percaya diri maka akan dianggap remeh oleh profesi lainya….

  7. koplak mengatakan:

    wakakakkakakakak….salut buat broden!!!

  8. Dedeh Ruhibah. mengatakan:

    Mau maju..? tingkatkan kemampuan dan kemauan diri
    mau dihargai..? tunjukkan kemampuan diri
    mau dihargai….rupiah..? tunjukkan kemampuan dan kwalitas kerja
    mau rupiah…..banyaaaaak….? jadikanlah kemampuannya menjadi….kemampuan or tenaga profesional beneran. supaya tidak perlu minta-minta kebijakan so ….
    perjuangkan terus ya…….jalan menuju kearah sana tinggal satu tahap lagi, toh kita sudah punya DIV …kan????

    • Ai dodoh N, AMKG mengatakan:

      betul bu, sebagai mitra drg kita harus eksis agar kemampuan kita tidak dipandang sebelah mata…!

      D IV ooooh D IV…..benarkah dikau bisa menjawab kerisauan kita……….?

      • triza oktarina mengatakan:

        tolong ksih info nya ke aku dong sist…., tentang D-IV……
        di tunggu info nya ya sit…., tq

  9. yuyun hidayat AMKG mengatakan:

    ayo maju perawat gigi karena kita sekarang ada UUD yang mengaturnya kita kan negara hukum jadi siapa saja memperoleh kebebasan di depan hukum. Jangan jadi tukang cuci dan nyedot2 air lir orang ga etis banget…….apalagi sekarang sudah ada D4 jadi lebih spesifik lagi akan jati diri perawat gigi jangan sampai kita terus menerus diinjak-injak oleh profesi lain yang dipandang sebelah mata oleh profesi lain. OK siap berjuang demi profesi kita…..

  10. taufiq mengatakan:

    mau tanya, kalo perawat gigi berwenang ga buat masang behel? bedanya ma dokter gigi apa?

  11. taufiq mengatakan:

    oia, apa perawat gigi memiliki pelatihan khusus orto ??

    • Basuki Rakhmat mengatakan:

      Ada pelatihan orto ngerapihin gigi macan …mau….

      • cici mengatakan:

        Wah kyknya pak basuki rahmat ini perawat gigi yg profesional, ngomongnya aja kyk org ga ada sekolahan. gmn kalo prakek ya?? semakin ngerusak reputasi perawat gigi aja.

      • cici mengatakan:

        Wah kyknya pak basuki rahmat ini perawat gigi yg GAK profesional, ngomongnya aja kyk org ga ada sekolahan. gmn kalo prakek ya?? semakin ngerusak reputasi perawat gigi aja.

      • Yeyen Setiaji mengatakan:

        pak basuki rakhmat, saya setuju dengan saudara cici, mohon gunakan kata yang santun, mana etika profesi anda sebagai perawat gigi? orang yang berilmu tidak akan sembarangan berbicara.komentar2 anda sama sekali tidak mencitrakan sebagai perawat gigi yang profesional.

      • unadi darwin cilegon mengatakan:

        wahai adik adiku,,,,,kalian salah memilih jurusan, kalau mau berkewenangan dlm kesehatan gigi jngan ke SPRG/AKG, masuknya FKG. tapi yg sdh terlanjur,,, cepat cepat ngambil keputusan….ganti profesi… hehehe..

  12. Saprizal mengatakan:

    Ayo Perawat Gigi Indonesia Tunjukkan Keamampuanmu Pada Dunia, Bukti kan kita mampu dan bisa berbuat yang terbaik untuk indonesia, mari kita ciptakan kreasi dan sesuatu yang bermanfaat untuk bangsa ini, agar kita tidak dipandang sebelah mata lagi.

    • emma mengatakan:

      saya setuju. Dari semua komentar yang telah saya baca diatas, paling banyak perawat gigi hanya mengeluh menjadi kacung/ babu/ tukang cuci. padahal, kami para dokter gigi tidak pernah menganggap perawat gigi sebagai jongos atau apalah….. jaganlah karena hanya pengalaman segelintir perawat gigi atau hanya mitos semata, lalu para perawat gigi mengecap diriya sendiri sebagai jongos. mungkin ada pengalaman buruk dari hubungan kerja perawat gigi & dokter gigi, tapi sepertinya masih lebih banyak pegalaman baik. saya rasa sekarang juga sudah banyak perawat gigi yang bisa unjuk gigi di dunia kerja. mengapa harus selalu menge-judge diri sendiri sebagai jogos???? bagi perawat gigi yag kiprahnya kurang menonjol atau hanya sekedar kerja yg bersifat rutinitas, mengapa tdk mencoba terobosan di lapangan kerja anda yang sesuai kompetensi??? daripada habis waktu dan energi untuk mencela profesi sendiri atau dokter gigi sebagai mitra anda. terimakasih.

      • randi mengatakan:

        setuju dengan emma hanya perawat gigi yg nga profesianal sj yg selalu mengangap dirinya babu sy lulusan DIII AKG dan sekrng bekerj disalah satu rumah sakit persuahaan seabagai mitra kerj drg. z rasa hubungan kemtraan kerja kami sangt baik yg penting tunjukan kinerja yg profesional sy rasa dogi jg pasti menghargai skill dan pengalman yg kita miliki..bahkan banyak kasus2 tertentu z dipercaya untuk menanganinya bahkan ada jg dogi mdah yg tidak malu dan ragu utk bertnya itulah kemitraan..masalh sterilkan alat dan laporan itu tdak dipungkri lg itu adalh bgian dari kompetensi perg,,jdilah perg.yg profesional jgan hanya berkoar2 sperti org nga berpendidikan.terus tigktkan kempuan pelyanan asuhan minimal mampu hecting lah..

  13. rija mengatakan:

    seorang drg yang tau kita, skill kita , pasti lebih menghargai kita, oleh karena itu bekerjasama yang baik2 lah dengan mitra kita, kita punya potensi sendiri yang berbeda, bekerjalah sesuai dengan kompetensi kita, pelayanan asuhan kesehatan gigi adalah tugas kita kalau kita lebih fokus pada pekerjaan yang satu ini yang memang kita diciptakan untuk itu, why not, tuhan selalu bersama orang2 yang sabar, toek bu dedet bravo maju terus pantang mundur……………

  14. alvian putra S.Kep Ns mengatakan:

    ayo sama2 berjuang bwt profesi………

  15. Dhian Apriliawati mengatakan:

    Bapak2, Ibu2, Teman2…… barangkali diantara Anda yang mempunyai softcopy KEPMENPAN No. 22/KEP/M.PAN/4/2001tentang Jabatan Fungsional Perawat Gigi dan Angka Kreditnya, mohon berkenan kami dikirimi softcopy KEPMENPAN dimaksud pada e-mail saya : dhianapriliawati@yahoo.co.id Terima kasih sebelumnya.

  16. KUKUH RISWANTO, S.Sos mengatakan:

    waduh…. waduh… kelihatannya pada rame nih… kalo gak mau jadi perawat gigi mending alih profesi… Perawat gigi sudah jelas koq… Ilmunya aja ilmu terapan lihat gelar S-1nya S.Sit. Berjuang sampe S-3 ya tetap aja kecuali di Pendidikan dan Depkes aja ada pengaruhnya,jadi eselon / pejabat struktural itupun keluar jadi skill aslinya..
    dikota mungkin ada perbedaan tapi kalo di daerah ya sama seperti jaman dulu… bedannya sekarang kerja pake titel,Tapi yang penting Gaji dari pada ngangur… kasihan emak yang sudah bayar uang kuliah..Perawat gigi yang keluar dari profesi aslinya juga banyak yang berhasil… bebas dari alat-alat kotor..

  17. Arwin Zainal mengatakan:

    Bagaimana PPGI mau maju waktu Munas aja teman-teman dari seluruh peserta banyak yang hanya jalan-jalan,sopping,betul datang dan berlibur tapi dahulukanlah organisasi di atas segalanya,bagaimana orang mau menghargai kalau dari diri sendiri tidak… kedpannya cobalah diatur jadwal yang benar-benar mengamodasikan seluruh kepoentingan organisasi. Bravo PPGI —-By Keluarga Besar PPGI Papua… Brovo–sukses selalu

    • Marlina mengatakan:

      betul,betul, gimana yang diluar profesi kita mau menghargai sementara kita aj pada apatis, kalo mau munas Selanjutnya planningx harus jelas dan yang penting panitiax tegas, kalo mau shoping at jalan2 sekalian aj ga usah diikutkan.

  18. Hence laoh mengatakan:

    Aku sih enjoy2 aza dgn profesi prwt gigi..kal mo nambah skolah mikir2 dulu,hehe gak punya duit,kalaupun punya mending ikut caleg d Pemilu…syukur2 bhasil bs bantu org lain jd perawat gigi hehehe…oia salam tuk teman2 alumnus SPRG Manado thn ’92…Bravo Perawat Gigi…,,

  19. yuni mengatakan:

    aku sih juga enjoy2 aza dgn profesi prwt gigi…mlh skrg aku sklah d3 progsus,meski memang keberadaan kita terkdng di pandang sebelah mata oleh para drg,krn kta dikira cm asistensi doang gt….moga2 hsl munas kmrin akan membawa hidup lebih baik para prwt gigi,setidaknya sprti ppni,BRAVO PPGI………

  20. made sukadana mengatakan:

    yang jelas kita jgn cuma berdebat coba donk lgs bikin gebrakan.kami ini didaerah cuma bisa mensuffort aja terus terang….tp walaupun begitu jgn kira gak usaha lho.di kab.Way Kanan Lampung keberadaan perawat gigi cukup diperhitungkan karena kemampuan personelnya boleh diadu

  21. dedi mengatakan:

    Gimana caranya toek melawan dokter yang meraja rela,,sedangkan kita perawat gigi bener2 seperti babu,,,

    • santhie mengatakan:

      sebaiknya perjuangan melalui organisasi profesi (PPGI) yang mengusulkan agar DIKELUARKAN regulasi dari menkes/kadinkes yang isinya : bahwa dalam melaksanakan pelayanan kesgilut terhadap masyarakat harus ada unsur tenaga drg,prg dan atau tekniker gigi sehingga masing-masing tenaga ini akan saling membutuhkan dan diakui keberadaanya. sebagai contoh adalah sebuah klinik gigi dalam perijinannya harus ada keterangan tenaga drg, prg dan tekniker gigi. kalau kurang satu tenaga maka ijinnya tidak diterbitkan.

  22. yanti mengatakan:

    Hidup Perawat Gigi…., jangan menyerah… maju terus pantang mundur. OK!!!!

  23. Farida mengatakan:

    Perawat gigi yang profesional dan berkarya itu seperti apa ya??

  24. SUBHEKTIPERMANA mengatakan:

    Menjadi perawat gigi selama ini aku bangga karena aku bisa kreatif dengan membuat perubahan2 di tempat kerja baik dari segi tata ruang maupun pelayanan, apabila komunikasi therapetik kita gunakan alhamdulillah pasien menghargai kita jangan hanya mengeluh saja rejeki sudah ada yang mengatur, buat komitmen dgn drg apa saja yg kita kerjakan dan tunjukan kemampuan yg berbeda dengan drg insya allah dokter pasti akhirnya menghargai kita, apabila mereka kelakuannya begitu saja /para dokter tinggalkan saja… oke… pokoknya jgn hanya mengeluh kehidupan ini sdh ada yg mengatur cecak aja yg ngak bisa terbang dikasih rejeki oleh Allah masa kita umatnya tidak diberi rejeki………….. apabila perlu berikan gebrakan yg berarti bagi profesi

    • unadi darwin cilegon mengatakan:

      waduh mas subhe.. masalahnya tdk sesederhana itu,,
      kalau saya, kalau sdh tdk suka dg profesi prg tinggalkan saja jauh jauh…. cari peluang lain yg dianggap cocok…ok ?

  25. Abdu Ridho Albab mengatakan:

    sejak 86(lulus bareng Basuki),kerja dengan atau tanpa drg, poliklinik jalan terus tuch…,tapi mungkin bekal ilmu saat itu relatif mencukupi jika dibandingkan sekarang…..>Pengalaman bekerja dengan lulusan sekarang(maaf)kesannya seperti belum siap pakai. Mungkin juga akibat dari pemangkasan kurikulum yang memang sudah kedengaran sejak 1985(sejak kita masih sekolah).Sepertinya(sengaja) banyak diarahkan ke prepentif ,biar gak terlalu pinter kerja di Poli(jgn sampai ngalahin drg nya).Kalo memang benar faktanya begini?? Kurikulumnya diperjuangkan supaya berimbang sehingga lulusannya siap pakai dan dihargai sesuai profesi dan bermitra dengan drg secara baik dan bukan sebagai tukang cuci instrument.

    • dewie mengatakan:

      sy stju dgn kakak ridho, sy lulusan AKG 2008, dan ditempatkan di puskesmas yg masuk daerah terpencil, jujur sy akui, sy ga bisa ngapa2in, nyabut gigi sulung derajat 3 aja mikir2…hahaha…. suer malu gila mau nyemplung dalam kolam ikan aja rasa’y…namun alhamdulillah sekarang sy sudah terampil sampai exo permanen(limpahan drg) pun bs, berkat senior dan drg yg berhati malaikat, mau berbagi ilmu tanpa takut merasa tersaingi… harapan sy, semoga kurikulum yg telah dipangkas ditinjau kembali agar bs diterapkan seperti pd waktu SPRG, agar skill prg patut diperhitungkan dan tidak dgn mksud menyaingi drg, malah sebaliknya, ingin membantu drg, krna klo dipuskesmas ga bs apa2, kasian drg kerja terus2an apalagi pasien byk, mau gantian tp prg’y ga bs ngapa2in… capedeeh….

  26. nurjanah mengatakan:

    rekan rekan sejawat,aq mw tnya ne?gmn sh sbenarx status keprawatn gigi?kami drumh sakit yg minoritas jumlah perwat gigi jd bingung apkh kta msuk kplayanan medik or keperawtn..thx a lot

  27. leoevant mengatakan:

    aq seorang mahasiswa kedokteran gigi, tpi dlu aq pernah kuliah di d3 kes gigi, selama yang pernah aq rasakan dan alamin kurikulum perawat gigi dan dokter gigi sangat berbeda sekali,jadi gk real kopetensi nya juga berbeda, nah jelas perawat gigi tugasnya dengan dokter gigi, dokter gigi kearah medik gigi, perawat gigi ke arah asuhan keperawatannya, jdi bsa dikatakan wewenangnya berbeda lahannya berbeda…so menurutku pantas perawat gigi adalah teman/ mitra dari dokter gigi bukan “pembantu”.dan menurutku dental asistant tu beda dengan perawat gigi, klo dental asistant ntu ckup pelatihan aja, siapapun bisa kok.tengkyu….. ^_^

    • vasha mengatakan:

      setuju, dalam tugasnya di puskesmas pun jelas tupoksinya sesuai dg kompetensi, drg tdk bs melebihi wewenang tersebut, sesuai dengan tanggung jawab masing2

    • inchy ispet mengatakan:

      itu jwban yg tepat. krna itulah qt disebut teman/ mitra. bukan sbagai musuh, saingan atau antra pembantu n majikan. masing2 qt punya tanggung jwb n wewenang masing2. tdk smua dokter gigi menjdikn perawat gigi pembantu, skedr suru2 n cuci alat. ada jg yg menghargai profesi prwt gigi n memberikn ksempatan untk bersentuhan langsung dgn pasien.

  28. jora sudrajat mengatakan:

    maaf boleh tnya2? saya alumni AKG 04
    di tempat kerja saya tidak ada drg (daerah sangat terpencil), salahkah saya klo saya melakukan tindakan pencabutan gigi permanen, lebih2 lagi pencabutan M3 atas n bawah. selama ini tindakan yg saya lakukan berjalan lancar tampa ada keluhan dari pasien. mohon saran n bimbinganya. thanks

    • inchy ispet mengatakan:

      gigi permanen boleh. tapi untk M3, klw keadaanx baik2 sja dlm kondisi daerah trpencil its ok. tapi klw smpe kondisi kw anggap tidk memungkinkn atau impaksi, mending cari aman sja untk rujukin kebidangnya langsung biar bisa difoto X-ray

  29. unadi darwin cilegon mengatakan:

    untuk jora .
    lakukan saja dengan penuh kehati hatian, karena iniadalah pekerjaan sosil/memnolong, tapi usahakan minta surat pernyataan dari yg ber wenang ( kapuskesmas/kadinkes), bhw jora memang dibutuhkan tenaganya.
    ini adalah tempat untuk melatih keterampilan yg gratis jadi bersyukurla jora…
    selamat untukmu,,semoga selamat dan sukses….

  30. asri ramdan mengatakan:

    usahakan bisa praktek mandiri dunk!!!

  31. drg. jeck siahaja mengatakan:

    hello, salam perkenalan, nama saya drg. jeck siahaja, sp pros. kalau membaca sekilas tentang cerita rekan rekan semua, kelihatannya ada kesalah pahaman dalam kedua bidang ini. dari kaca mata kalian yang saya baca, kalian inginkan kesetaraan dalam profesi. sementara dari kaca mata dokter gigi, mereka kurang memahami tentang perbedaan dental hygienist dan dental assistant. benar kata rekan rekan tadi tentang perawat gigi bukan pembantu atau tukang cuci alat…. cuman mohon juga dilihat dari kebiasaan masyarakat kita yang tidak mengetahui tentang perawat gigi. mereka umumnya datang ke dokter gigi untuk melakukan perawatan kepada sang dokter gigi. kalau di lakukan perawatan oleh asistennya saja, biasanya pasiennya akan kabur. saya rasa yang perlu dibenahi dulu adalah memunculkan kata perawat gigi sebagai dental hygienist yang mempunyai kewenangan membersihkan karang gigi, DHE. sehingga masyarakat dapat memahami itu seperti yang ada diluar negeri. tapi itu akan lumayan sulit karena banyak sekali konflik kepentingan disana dan kemudian ditambah semakin banyak masalah dengan tukang gigi sehingga membuat semua pihak pada pasang kuda kuda karena takut lahan nafkahnya terambil… dilema memang… tapi saran saya coba lakukan kolaborasi dengan PDGI dan juga sekiranya apabila kedua belah pihak jangan emosi dulu atau menabuh genderang perang terlebih dahulu, InsyaAllah bisa mengaungkan nama perawat gigi sebagai dental hygienist.

    • yayaa mengatakan:

      setuju jg sih dengan saranya dok z rasa perlu ada kolaborasi dengan PDGI terus menyikapi dengan keberdaan tukang gigi yg sdah meraja lelah gmana dok..nih didaerah sy ini jumlah tukang gigi sdah meraja lelah di berbagai sudut bahkan di mall jg da ada pasang kawat gigi dan tambl gigi wah bener2 gila nih tukang gigi bahkan kata masyrakt setmpt ada tukang gigi yg melayani cabut sekali 24 gigi..hebat yah merka ini orng2 yg nga pernh melwti bangku pendidikan AKG ataupn FKG kok masyrakat pada mau kestu jg..bahkan ada nih tukang Ahli gigi dikompleks z pasienya siang malam antre padahal di depn ada praktek dokter gigi..apakh kegiatn tukng gigi nih melngar hukum atau hanya menghalangi lahan nafkah dokgigi tpi z rasa tukang gigi lakukn itu untk nafkah jg kok,,,kalau dok.gigi dan tukng gigi berbut lahan perawt gigi gmana ya ??

  32. unadin darwin eksasprawira mengatakan:

    ah.. saya mah maol ngomentari prg… kyk ga ada pagawean……, ku maha us cageur ?????, sy hirp keneh…

  33. unadin darwin eksasprawira mengatakan:

    lain US…. naq nanya kasaha kitu ??, piraku teu apaleun kasy (teungteuingeun …euy,,,)… sok buka Fb HAJI MUBAROk, anu m loba huisan ti TASIK…salam ka sobat sobat anu ti Garut… will meet again some day…..

  34. unadin darwin eksasprawira mengatakan:

    wah noncent ZIS,,,,NATO…. No Action Talk Only….., nu aya mah pa aing aing… ( yeuh aing …. saha maneh … kitu lin ?????????, ieu kanyataan…hirup mah durang duraring…( poho nu aya mah….)not. meet a gain for ever lah…..where ever….,walaupun it only famaly farmer is not it ???

  35. unadin darwin eksasprawira mengatakan:

    Untuk prg yang lain yg masih ada di jalan yang benar,,,, perut maju pantat mundur, jangan pernah menyesal m’jadi prg…hidup adalah pilihan, besok masih ada matahri..,berjuanglah utk diri sendiri, keluarga, bangsa dan negara,,,, merddeka…!!!!!.

  36. unadin darwin eksasprawira mengatakan:

    KANGGO HAJI BAROK,,,DI TASIK,, COBI TAH di bantos KANG usus Ti GARUT hoyong pendak,hatur nuhun nya,,,

  37. unadin darwin eksasprawira mengatakan:

    mereka umumnya datang ke dokter gigi untuk melakukan perawatan kepada sang dokter gigi. kalau di lakukan perawatan oleh asistennya saja, biasanya pasiennya akan kabur. saya rasa yang perlu dibenahi dulu adalah memunculkan kata perawat gigi sebagai dental hygienist yang mempunyai kewenangan membersihkan karang gigi, DHE. sehingga masyarakat dapat memahami itu seperti yang ada diluar negeri. tapi itu akan ……..lumayan sulit karena banyak sekali konflik kepentingan disana dan kemudian ditambah semakin banyak masalah dengan tukang gigi sehingga membuat semua pihak pada pasang kuda kuda karena takut lahan nafkahnya terambil… dilema memang… tapi saran saya coba lakukan kolaborasi dengan PDGI dan juga sekiranya apabila kedua belah pihak jangan emosi dulu atau menabuh genderang perang terlebih dahulu, InsyaAllah bis……….(ini saya kutipan dari drg jeck siahaja)…
    Tolong dong kasih kasih komentyar..

  38. unadin darwin eksasprawira mengatakan:

    mereka umumnya datang ke dokter gigi untuk melakukan perawatan kepada sang dokter gigi. kalau di lakukan perawatan oleh asistennya saja, biasanya pasiennya akan kabur. saya rasa yang perlu dibenahi dulu adalah memunculkan kata perawat gigi sebagai dental hygienist yang mempunyai kewenangan membersihkan karang gigi, DHE. sehingga masyarakat dapat memahami itu seperti yang ada diluar negeri. tapi itu akan ……..lumayan sulit karena banyak sekali konflik kepentingan disana dan kemudian ditambah semakin banyak masalah dengan tukang gigi sehingga membuat semua pihak pada pasang kuda kuda karena takut lahan nafkahnya terambil… dilema memang… tapi saran saya coba lakukan kolaborasi dengan PDGI dan juga sekiranya apabila kedua belah pihak jangan emosi dulu atau menabuh genderang perang terlebih dahulu, InsyaAllah bis……….(ini kutipan dari drg jeck siahaja)…
    Tolong dong kasih kasih komentar..

  39. unadin darwin eksasprawira mengatakan:

    Us.. terus kamana atuh apan cenah hayang ngobrol…, sok atuh diantos ku akang…

  40. mawar putri julica mengatakan:

    hi teman2 PPGI, aku mawar salah satu pengurus PSMKGI , ada yang bisa mengirimkan kontak ketua PPGI ga ke email ku ga…untuk berkenalan dan mempererat silahturahmi…makasih… :)

    • mawar putri julica mengatakan:

      maaf sebelumnya saya ingin bertanya apakah ada organisasi mahasiswa keperawatan gigi…terimakasih ya… maaf kalau kata2 sebelumnya kurang berkenan, karena saya pikir ini organisasi tingkat mahasiswa, mohon maaf atas ketidak sopanan saya… salam kenal kakak2 semua..

  41. endang mengatakan:

    kalau mau daftar ppgi dmana ya?saya kebetulan baru pindah dari surabaya dan sekarang ada di jakarta.saya ingin gabung ppgi yang di jakarta?

  42. triza oktarina mengatakan:

    kpd teman2 yg tau info tentang D-IV keperawatan Gigi tolong kasih info ke saya donk…..
    btw BRAVO PPGI………………..

  43. Ratih Wijayanti mengatakan:

    wah….. rame…..!!!!
    Ok,… rekan sejawat PRG bisa saya sarankan untuk bergabung dan berperan aktif didalam organisasi profesi kita yaitu PPGI ,… ya aspirasinya bisa disalurkan didalam wadah tersebut,…
    Maaf ya kalau kita hanya mengeluh dan menggerutu aja gimana mau maju???? menyalahkan orang/lembaga/siapaun tidak akan memecahkan masalah,…….
    Jadi BERJUANGLAH karena memang itu kenyatannya dan jadilah orang yang berfikir RASIONAL bukan EMOSIONAL,…. oke???

  44. Rizky famalahayati AMKG mengatakan:

    Ya kalau bisa,untuk jurusan kesehatan gigi di Poltekkes Medan lebih di jamah ya
    Karna pngetahuan dan pngalaman mnurut saya blm klop
    Pengennya sich lbih ada krja sama dgn jurusan kesehatan gigi lain d luar sumatera

  45. Sugih mengatakan:

    kok nga ada berita baru di webside ini……………….
    sayang kalo nga ada yang isi…..
    jagan cuma sejarah aja berita terkininya mana….??.
    pak sulur adek kelas gw…
    gw sudah lama baca ttg ini…….
    baru sekarang aja gw kasih komentar

  46. shule mengatakan:

    brova prg.aq lulusan d3 akg 04 poltekes makasar.dan skarang sy d bagian bedah mulut dgn Sp.Bm.siapa bilang kt tidak bisa.ayo tetap maju kamu bisa

  47. Dephie Gokiel Nagh mengatakan:

    askum. . .
    mohon izin tanya, apa diantara kalian ada yang kenal dgn Nanik meilina dan rinita purnariyanti..???

  48. panji mengatakan:

    nah untuk kedepannya…perawat2 gigi ini mau dibawa kemana ya??lapangan kerja kalau di puskesmas / rumah sakit itu apa sudah banyak dibutuhkan??
    saya mahasiswa perawat gigi S1 di ugm..

    • shanti mengatakan:

      sebenarnya kalau ada regulasi dari pemerintah (menkes, kadinkes TK I dan kadinkes Tk II) bahwa dalam melaksanakan pelayanan gigi dan mulut kepada masyarakat harus melibatkan 3 unsur tenaga yaitu : 1) drg, 2) perawat gigi dan 3) tekniker gigi. jika salah satu tenaga tersebut tidak ada, maka pelayanan kesgilut (klinik, RS, Puskesmas, praktek drg ) tidak bisa dilaksanakan. kalau melanggar maka akan dikenakan sansi sesuai peraturan. sedangkan perawat gigi yang vokasional (punya keahlian) adalah lulusan Sekolah Perawat Gigi, SPRG, AKG, JKG dan D-IV. sedangkan S-1 adalah keilmuan.
      jika hal tersebut di atas terlaksana insyaallah, tidak ada lagi benturan dalam hal pekerjaan karena masing2 merasa membutuhkan dan dibutuhkan. oke… salam utk PPGI

  49. panji mengatakan:

    lha maksud dari kelilmuan ini apa??
    apakah perawat gigi S1 disini tidak dibutuhkan atau bagaimana??

  50. aby mengatakan:

    jadi apa misi dan visi tehniker gigi?
    boleh enggak melakukan kegiatan medis?

  51. hedwig mengatakan:

    TMAN2 GIGI, DI KAB. KAMI PERAWAT GIGI BELUM BISA DIANGKAT SBG JAB FUNGSIONAL. SYARATNYA HARUS MELAMPIRKAN SERTIFIKAT DIKLAT JABATAN FUNGSIONAL PERAWAT GIGI BARU BISA LOLOS DI BKD. APAKAH HARUS DEMIKIAN? TOLONG PERATURAN TTG JABFUNG PERAWAT GIGI YG BERISIKAN PERSYARATANNYA….. MKS

    • Ulpahgigi mengatakan:

      Coba dulu konfirmasi dgn dinkes kab.dl tanya persysratannya. Kl mrmang hts punya sertifikt jabfung minta aja dinkes profinsi utk adakn pelatihn jabfumg prg. Moga lancr temn.

  52. selvyseptyanty mengatakan:

    hidup perawat gigi! buktikan bahwa kita memiliki skill yang lebih terampil :D

  53. YONAN HERIYANTO mengatakan:

    hmmmmmmmmmmmmmm……………….. rame juga perawat gigi ngoceh di dunia maya….. masing-masing punya pendapat, pandangan, argument dan keputusan. itulah ciri bahwa Perawat Gigi sebenarnya HIDUP… dan perawat gigi sebenarnya EKSIS…. semua masalah yg dihadapi di lapangan adalah suatu ciri juga bahwa KEBERADAAN PERAWAT GIGI kian hari kian diperhitungkan (kalo ga diperhitungkan oleh orang -PIHAK- lain berarti perawat gigi memang telah mati). Saya salut dengan semuanya, dan saya sangat memberikan apresiasi yg tinggi untuk rekan perawat gigi…. Jangan putus asa dan tetap harus optimis, profesi kita akan semakin diperhitungkan oleh orang-orang yg iri pada profesi kita, dan itu tandanya mereka meradang dengan kemajuan kita. Selalu kompak, dan selalu bersatulah perawat gigi. Hadapi semua keadaan dan fenomena hidup di lapangan. BRAVO.

  54. Ulpahgigi mengatakan:

    Saya bangga jd PRG, tmn2 sekarang ini kita udah bikin draf untuk praktik mandiri lho jd ga ush malu jd prg……

  55. Anang mengatakan:

    tahun 2012 sepi komentar nih..aku seneng baca2 komentar tmn2..ada yang berbagi pengalaman, curhat,adu argumen dll..mdhan prg lebih maju lagi dengan cara saling berbagi pengalaman,informasi pendidikan maupun lowongan pekerjaan..salam sukses dri anang di kalimantan selatan

  56. Bintang mengatakan:

    teman2, kakak2, adek2, semuanya .. Perawat gigi juga pnya masa depan yg jelas,,
    untuk itu ayo bantu dan dukung Persatuan Perawat Gigi Indonesia (PPGI) bersama organisasi profesi dokter gigi yang lagi merancang peraturan menteri kesehatan tentang penyelenggaraan pekerjaan perawat gigi. Harapannya, ke depan perawat gigi memperoleh izin untuk membuka praktik kerja secara mandiri .
    Semoga semua lancar, dan ini akan menjadi pencerah bagi perawat2 gigi indonesia .
    Kalo kita bisa praktek mandiri, ga akan ada yg semena.mena lg sama kita perawat gigi . Semangat !
    Aminn

  57. unadi darwin mengatakan:

    aaaahhhhhh…………………..aaaaaaahhhhhh…….

  58. anton mengatakan:

    slam sejahtera rekan-rekan prg, ada yang tau isi seminar d tmii gakk?

  59. anton mengatakan:

    ada perkembangan apa tentang profesi perawat gigi sudah sejauh mana perkembangan untuk bisa praktik madiri?

  60. dewi fatmawati legawa mengatakan:

    sya mau lanjut S1, S2, S3 klo ada S4 (klo ada dananya jg, hehehehe), biar bisa masuk ke jajaran pemerintahan yg diutamakan, trus memperjuangkan kesejahteraan perawat gigi indonesia. Memperluas kurikulum di akademi keperawatan gigi, biar para perawat gigi yg masuk dan bekerja di daerah terpencil ga cuma bisa melongo n bingung menghadapi kasus di lapangan krn keterbatasan materi dan praktek ketika di akademi. Semangat Semangat Semangat PRG Indonesia, u/ MAJU dan membuat masyarakat bebas dr penyakit gigi dan mulut !!! (senyum lebar sampe M2 keliatan sambil kibar2 bendera peperangan,hehehe). Mohon info klo ada perkuliahan lanjutan dr keperawatan gigi jalur mandiri

  61. ra mengatakan:

    mgkn sdh saatnya perhatian kita lbh bnyk dialihkan ke preventif, promotif dgn prwt gigi sbg ujung tombaknya. jadi gak akan ada cerita rebutan ‘lahan’ dgn drg atau ‘perasaan kecil’ dgn profesi prwt gigi itu sndiri. klo ini terwujud, mgkn nanti hny akan ada sglintir org aja yg mncri pngobatan/kuratif ke drg. tunjukin ke masyarakat betapa pentingnya kehadiran kita tmn2 prwt gigi :)

  62. koe mengatakan:

    yang penting keahlian SPRG tidak diragukan karena waktu SPRG di punah kan/ di kandaskan bisa melanjutkan ke jenjang lebih tinggi lagi,bahkan sekarang banyak dan ada klinik gigi yang merekrut anak SMA untuk dijadikan perawat gigi,coba kalo SPRG di adakan lagi setara SMK,,

    • jauza mengatakan:

      Teman2 tidak usah berkecil hati, di tempat saya di kalimantan selatan, sudah banyak perawat gigi yg membuka praktek mandiri dan mendapat ijin, malah pasen mereka lebih banyak dari praktek drg

  63. jauza mengatakan:

    Teman2 tidak usah berkecil hati, di tempat saya di kalimantan selatan, sudah banyak perawat gigi yg membuka praktek mandiri dan mendapat ijin, malah pasen mereka lebih banyak dari praktek drg

  64. ibnu mengatakan:

    apa ada jurusan S1 perawat gigi ? kalau ada dimana ? trims..

  65. yunita ratnasari mengatakan:

    kenapa sprg itu di ubah namanyaa????

  66. youdipontoh mengatakan:

    pendidikan itu penting masalanya tdk semua wilayah di republik ini muda megakses pendidikan apalagi lulusan SPRG kalau uda gololngan IIc keatas masuk AKG / JKG ngapain lagi mau cari ilmu di SPRG lebih ribet belajarnya maknya skilnya mantap coba liat LUlusan AKG/JKG nga bisa ngapa ngapain kalau di *puskesmas/apalagi dirumah sakit paling bikin Tampon Caton pelet sama Steril Instrumen cabut gigi goyang aja tangannya yang goyang karna tremor

  67. PPGI Belitung Timur mengatakan:

    tmn2, sy mau tanya,, gmn dgn status legalitas DPC tidak jelas krn terhambat dgn pengurus DPD yang nggak peduli dg kami???

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 59 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: